Cegah Kepunahan, Balai Bahasa Sulteng Intervensi Pengembangan 4 Bahasa Lokal

Pengunjung perpustakaan Balai Bahasa Sulteng membaca buku tentang bahasa Kaili. (Foto: Irsan)
Pengunjung perpustakaan Balai Bahasa Sulteng membaca buku tentang bahasa Kaili. (Foto: Irsan)

Pelajar dan guru di Sulawesi Tengah didorong menjadi penutur bahasa daerah agar tidak punah. Balai Bahasa Sulteng empat bahasa di daerah itu punya potensi terancam.


Keempat bahasa daerah di Sulawesi Tengah yang sedang diintervensi Balai Bahasa Sulawesi Tengah lantaran mengalami penurunan penutur itu yakni Bahasa Kaili, Saluan, Pamona, dan Banggai. Keempatnya disebut berpotensi terancam punah.

"Salah satu yang kami lakukan adalah membina guru dan pelajar untuk meminati dan mengembangkan bahasa daerahnya. Ini untuk mengembalikan fungsi bahasa daerah yang kehilangan ruang," kata Asrif di Acara Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) di Kota Palu beberapa waktu lalu.

Pembinaan pelajar dan guru tersebut adalah bagian dari 'Merdeka Belajar' di sekolah-sekolah yang diharapkan memicu minat generasi muda untuk mengembangkan bahasa "ibu" mereka dan berkontribusi pada pelestariannya.

Asrif mengungkapkan sejak April di sekolah-sekolah di Kota Palu, Donggala, Poso, Banggai, dan Banggai Kepulauan, pelajar diberi ruang mengembangkan bahasa daerah masing-masing dengan mendongeng, komedi, dan menulis cerpen.

Dari anak-anak yang telah mengikuti berbagai pembinaan diharapkan kebanggaan terhadap bahasa daerah menular ke anak-anak lain yang akan menjadi kunci pelestarian bahasa daerah.

"harapannya anak-anak bangga memiliki bahasa daerah, nyaman berbahasa daerah, dan bisa memicu anak-anak lain," Pungkas Asrif.